Sketsa Pemahaman Alkitab
P U A S A K R I S T E N : Memberlakukan Kasih dan Keadilan
Bacaan:
(a) Yesaya 58: 1 – 12, (b) Mazmur 51: 1 – 17,
(c) II Korintus 5:20b – 6:10, serta (d) Matius 6:1 – 6.
Tujuan:
Jemaat menghayati makna Puasa dengan cara melakukan karya Allah yang membebaskan, sehingga mereka terdorong untuk memberlakukan kasih dan keadilan.
Berbagai Petunjuk Tehnis:
Bahan PA kali ini menggunakan metode SARASEHAN, sehingga diharapkan ada setiap peserta PA bisa mempelajari dengan santai, cermat dan sareh (sabar) tidak perlu ngotot apalagi emosional.
Materi PA kali ini ini cukup berat, maka disarankan agar Peserta PA sudah membaca dan mempelajari bahan PA ini di rumah masing-masing.
Pemimpin PA semestinya mempersiapkan diri lebih cermat dengan mempelajari bahan ini secara serius. Hubungi Pendeta terdekat jika menemukan ayat-ayat tentang Puasa dalam Alkitab yang belum dipahami.
Bahan PA ini dirancang untuk dua kali tatap muka/ dua kali pertemuan PA. Satu kali pertemuan - sekitar 90 menit.
Berikut ini adalah puji-pujian yang cocok untuk digunakan dalam PA kali ini, yaitu: KJ.27. KJ.32, KJ.33. KJ.432. KJ.433. KJ.434. Pilih sesuai kebutuhan.
Jangan lupa PA adalah Pemahaman/Pendalaman Alkitab (bukan Perdebatan Alkitab) maka lakukan dalam penyertaan Roh Kudus demi pembangunan jemaat Kristus.
I. PENDAHULUAN
Tradisi PUASA sudah lama menghilang dari kehidupan komunitas Gereja-gereja Kristen Jawa. Maka tak perlu heran, manakala tradisi ini hendak dihidupkan kembali (dimulai sekitar 1998) sebagai suatu disiplin rohani yang mendukung pembinaan spiritualitas Kristen, lalu banyak warga gereja yang kaget. “Lho… kok kita tiru-tiru agama lain”, ungkap seorang warga yang berkali-kali pernah menjadi anggota Majelis Gereja. “Ya, buat apa kita berpuasa, kan Tuhan Yesus sudah berpuasa untuk kita” tambah seorang aktivis di sebuah gereja. Sungguh pun demikian, Puasa tetap dianjurkan untuk dilakukan di GKJ, antara lain melalui berbagai kegiatan yang dimotori oleh LPP Sinode (Lembaga Pengaderan dan Pembinaan Sinode) GKJ dan GKI Sinode Wilayah Jawa Tengah. Puasa yang dianjurkan adalah Puasa menjelang Paskah dalam kegiatan MPDK (Masa Penghayatan Dasar Kekristenan).
Sehubungan dengan hal tersebut ada berbagai kenyataan yang terdapat dalam kehidupan jemaat GKJ. Sekurang-kurangnya, ada 4 kelompok:
1. Kelompok yang diam-diam “menolak” masuknya tradisi puasa untuk diberlakukan di GKJ. Implikasinya tampak pada keengganan mereka untuk melakukan Puasa. Alasannya, karena bertentangan dengan kebiasaan gereja selama ini.
2. Kelompok yang “sendika dhawuh” yang tidak keberatan adanya tradisi Puasa kembali dilakukan di GKJ. Implikasinya tampak pada kesediaan mereka untuk mencoba melakukan Puasa, meskipun mereka belum mampu menjelaskan apa, bagaimana dan mengapa perlu berpuasa secara benar. Alasannya, karena mereka yakin bahwa anjuran Sinode pasti baik dan tidak sembarangan, pasti sudah melalui proses pertimbangan untuk mendukung peningkatan spiritualitas Kristen.
3. Kelompok yang “ragu-ragu” yang tidak menolak pemberlakuan Puasa di GKJ, namun mereka juga tidak langsung menyetujui dan memberlakukannya. Implikasinya tampak pada usaha-usaha untuk mempelajari dan mencari sumber-sumber tentang Puasa Kristen. Kebanyakan dari mereka masih bingung, karena tidak ada petunjuk tehnis yang jelas dan mudah dimengerti tentang bagaimana Puasa Kristen harus dilakukan.
4. Kelompok yang “memahami” tentang tradisi Puasa yang perlu diberlakukan lagi di GKJ sebagai salah satu disiplin rohani untuk mendukung spiritualitas Kristen. Implikasinya tampak pada kesungguhan mereka untuk melakukan Puasa Kristen yang dilandasi dengan pemahaman mengenai Puasa Kristen berlandaskan Alkitab serta mempertimbangkan kenyataan kehidupan jemaat pada masa kini.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam Ibadat RABU ABU th.2009, jemaat akan diajak untuk menghayati makna Puasa berdasarkan Alkitab, tidak sekedar membatasi makan dan minum (seperti puasa pada umumnya) tetapi lebih dari pada itu adalah melakukan karya Allah yang membebaskan, sehingga mereka terdorong untuk memberlakukan kasih dan keadilan secara nyata dalam kehidupan mereka masing-masing.
Jadi, warga jemaat memang akan diajak untuk menjalani tradisi masa puasa selama 40 hari (terhitung sejak Rabu Abu sampai dengan Paskah; namun khusus pada hari Minggu tidak ikut dihitung karena dianjurkan untuk tidak berpuasa pada hari Minggu). Namun mereka akan diajak untuk melakukan Puasa dan Doa serta diikuti dengan perilaku nyata untuk memberlakukan kasih dan keadilan kepada sesamanya.
II. TAFSIRAN TEKS
Sesuai dengan LEKSIONARI TAHUN B, maka bacaan yang digunakan dalam Renungan RABU ABU adalah dari: (a) Yesaya 58: 1 – 12, (b) Mazmur 51: 1 – 17, (c) II Korintus 5:20b – 6:10, serta (d) Matius 6:1 – 6.
(a) YESAYA 58:1 – 12
Perikop ini bisa diberi judul PUASA YANG SEJATI.
Nabi Yesaya bin Amos secara serius mengingatkan umat Yehuda agar kembali bertobat kepada TUHAN karena selama ini mereka mengalami kemerosotan moral yang hebat. Untuk itu ia bernubuat dengan suara lantang bagaikan sangkakala (58:1). Kondisinya semakin parah karena umat Allah (Yehuda) rupanya jatuh pada penghayatan agama yang legalistic – formalistic (mengutamakan formalitas sesuai dengan aturan/hukum agama yang berlaku), namun secara hakiki mereka jauh dari Allah (ay.2). Yesaya menegaskan bahwa PUASA yang tidak dilandasi oleh spiritualitas yang benar adalah sia-sia belaka (ay.3-4 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi)
Puasa yang dikehendaki Allah adalah “merendahkan diri” dan “mewujudkan keadilan” kepada sesama (ay.6) ,mewujudkan “cinta kasih” dan kepedulian kepada sesama terutama kepada mereka yang menderita (ay.7). Bila hal itu dilakukan maka ada berkat TUHAN yang pasti diterima, yaitu:
• Ada pengharapan di tengah kesesakan dan pergumulan (ay. 8, 10)
• Ada relasi yang baik dengan Tuhan (ay. 9)
• Ada pengharapan di dalam Tuhan (ay. 10)
• Ada pertolongan Tuhan (ay. 11)
• Ada jaminan keberhasilan (ay. 12, 14)
Dari uraian tsb., kita bisa menarik kesimpulan bahwa PUASA bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum. Puasa juga bukan sekedar memenuhi Hukum Agama.
Namun lebih dari itu semua bahwa Puasa adalah kesediaan untuk bertobat/merendahkan diri di hadapan Allah yang ditandai dengan mewujudkan keadilan, cinta kasih dan kepeduliaan terhadap sesama manusia.
(b) MAZMUR 51 : 1 – 17
Perikop ini bisa diberi judul PENGAKUAN DOSA.
Raja Daud sedang menerima tegoran keras dari nabi Natan sehubungan dengan dosanya, sebab ia merampas isteri Uria (yakni: Batsyeba) dan dengan cara yang licik ia menjadi penyebab kematian Uria. Menanggapi tegoran sang Nabi, ternyata Raja Daud tidak menjadi murka, atau membela diri, atau tersinggung (sebagaimana layaknya manusia yang jatuh dosa), tidak!. Berhadapan dengan tegoran illahi melalui Nabi Natan, Raja Daud lalu menyediakan diri untuk mengaku dosa, bertobat serta mohon pengampunan TUHAN.
Raja Daud meyakini sepenuhnya bahwa pertobatan lebih penting katimbang upacara kurban. Dan pengakuan dosa yang tulus iklas adalah lebih penting dari segala macam aturan agamawi. Itulah sebabnya Daud menegaskan: Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mazm. 51: 16 – 17).
Dari uraian tsb., kita bisa menarik kesimpulan bahwa pertobatan, pengakuan dosa serta mohon pengampunan Allah adalah unsur yang sangat penting daripada sekedar menuruti syariat-syariat agama..
(c) II KORINTUS 5:20b – 6:10
Perikop ini bisa diberi judul PELAYANAN PERDAMAIAN.
Pada bagian ini Rasul Paulus menegaskan tentang pelayanan perdamaian yang ia lakukan sebagai uusan-utusan Kristus. Ia mengajak jemaat agar bersedia membuka diri untuk didamaikan dengan Allah, melalui karya Tuhan yesus Kristus (5:20). Paulus memberikan nasihat agar orang-orang Korintus jangan sampai murtad sehingga membuat sia-sia kasih karunia Allah (6:1).
Selanjutnya Rasul Paulus, sebagai pemimpin jemaat, sekaligus sebagai pelayanan Allah, ia telah memberikan teladan yang sangat baik Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela (II Kor. 6:4 – 7). Paulus juga mengungkapkan bahwa tradisi PUASA ia lakukan untuk melatih diri dalam penyertaan Tuhan.
Dari uraian tsb., kita bisa menarik kesimpulan bahwa menjadi orang Kristen berarti bersedia ”menjadi alat perdamaian TUHAN” yang semestinya terwujud /kelihatan dalam perilaku kehidupan ini. Dan PUASA adalah menjadi salah satu disiplin rohani yang sangat penting untuk mendukung pelayanan sebagai umat TUHAN.
(d) MATIUS 6:1 – 6, 16 – 21
Perikop ini terdiri atas tiga bagian yaitu: diberi judul HAL MEMBERI SEDEKAH, DOA dan BERPUASA. Pada bagian ini Tuhan Yesus menegaskan tentang TIGA DISIPLIN ROHANI yang sangat penting, yang semestinya dilakukan dengan benar oleh umat Allah. Sedekah semestinya dilakukan dengan benar dalam ketulusan dan kerendahan hati, bukan dalam kesombongan dan pamer. Begitu juga dengan doa yang adalah relasi manusia dengan Allah secara pribadi, semestinya dilakukan dengan benar dan penuh kesungguhan, bukan dengan kemunafikan dan sekedar untuk memenuhi syariat agama.
Demikian juga pada bagian berikutnya ditegaskan tentang perlunya berpuasa secara benar!. Seperti halnya dengan Sedekah dan Doa, PUASA pun hendaknya dilakukan dengan kesungguhan dan bukan formalitas. Puasa Kristen bukan sekedar menjalankan perintah agama, melainkan suatu disilin rohani untuk melatih diri semakin dekat dengan Allah. Dari uraian tsb., kita bisa menarik kesimpulan bahwa Sedekah, Doa dan Puasa perlu kita lakukan dengan baik dan benar, bukan sekedar menjalankan syariat agama, melainkan suatu ketaatan kepada Allah.
III. KESIMPULAN – KESIMPULAN PENTING TENTANG “ PUASA KRISTEN “ :
Dari berbagai tafsiran teks tersebut di atas, (a) Yesaya 58: 1 – 12, (b) Mazmur 51: 1 – 17, (c) II Korintus 5:20b – 6:10, serta (d) Matius 6:1 – 6. Maka bisa kita tarik kesimpulan penting sebagai berikut:
Puasa merupakan salah satu disiplin rohani yang penting. Namun
makna Puasa adalah kesediaan diri untuk MENGENDALIKAN DIRI, termasuk membatasi jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi, selain itu adalah
kesediaan untuk bertobat/merendahkan diri di hadapan Allah
yang ditandai dengan mewujudkan keadilan, cinta kasih dan kepeduliaan secara nyata terhadap sesama manusia.
Dan Puasa itu semestinya dilakukan oleh setiap orang Kristen dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan.
LES
SARASEHAN I :
1. Ceritakan Pengalaman anda tentang Puasa!. Misalnya: Apakah telah melakukan Puasa berdasarkkan Firman Tuhan? – kalau belum Puasa: Mengapa? Dan Kalau sudah Puasa: Apakah dan Bagaimanakah Kesulitan yang dialami ? Jelaskan!
2. Menurut Firman TUHAN, mengapa umat berIman perlu berpuasa dengan benar? Jelaskan berdasarkan kesaksian Alkitab!
3. Hal-hal apa yang perlu kita upayakan agar PUASA sebagai suatu disiplin rohani yang penting dapat semakin dipahami warga jemaat dan dilakukan dengan benar?
SARASEHAN II :
1. Baca Ulang Yesaya 58: 3 – 4. PUASA yang tidak dilandasi oleh spiritualitas yang benar adalah sia-sia belaka. Apa makna ungkapan tsb.?
2. Pertobatan, Pengakuan Dosa serta Mohon Pengampunan Allah adalah unsur yang sangat penting dalam melakukan PUASA KRISTEN (Mazm. 51: 16 – 17). Mengapa demikian? Ceritakan Pengalaman anda!
3. PUASA KRISTEN ditandai dengan mewujudkan keadilan, cinta kasih dan kepeduliaan secara nyata terhadap sesama manusia (baca:II Kor. 6:4 – 7). Dan mulai 25 Februari s.d. 11 April 2009 kita akan menjalani Masa PUASA selama 40 hari (terhitung sejak Rabu Abu sampai dengan Paskah; namun khusus pada hari Minggu tidak ikut dihitung karena dianjurkan untuk tidak berpuasa pada hari Minggu). Berdasarkan II Kor.6: 4 -7. Bukti Cinta kasih APA SAJA yang akan kita lakukan setalah melakukan Puasa Paskah 2009 ini. Buatlah program konkrit di kelompok anda dalam rangka Kegiatan PASKAH 2009!
Rabu, 04 Februari 2009
Senin, 19 Januari 2009
DIPANGGIL UNTUK MEMULIHKAN
DIPANGGIL UNTUK MEMULIHKAN
Bacaan I : I SAMUEL 3: 1 – 10
Antar Bacaan: Mazmur 139: 1 – 6, 13-18
Bacaan II : I KORINTUS 6: 12 – 20
Bacaan III: YOHANES 1: 43 – 51
Tujuan:
Anggota Jemaat dapat memiliki kepekaan dan mampu merespon panggilan Allah, sehingga mereka dapat secara efektif terlibat dalam karya pemulihan Allah secara menyeluruh.
1. Pengantar PA Kali ini
Bacaan I (I SAMUEL 3: 1 – 10) adalah kisah panggilan Samuel yang masih sangat muda. Pada waktu itu, firman TUHAN jarang dinyatakan, penglihatan-penglihatan spiritual pun jarang terjadi - ayat 1. Hal ini terjadi karena konteks kehidupan dalam dosa telah menjadi suatu budaya baru, sehingga agama yang semestinya menjadi sumber inspirasi, telah berubah menjadi alat dan diperalat untuk kepentingan-kepentingan politis, ekonomi, social kemasyarakatan, dll. Lihat saja kehidupan keluarga Imam Eli yang menjadi tokoh agama dan imam (begitu juga anak-anaknya) namun memiliki perilaku yang amat buruk (I Sam.2: 12-17). Dosa yang mereka lakukan teramat parah, dari dosa-dosa yang berkaitan dengan proses ibadah, hingga dosa-dosa seksualdi lingkungan rumah ibadah! (I Sam.2:22).
Samuel menerima Panggilan TUHAN. Namun ia bingung karena panggilan Tuhan jarang terjadi, dan ia juga belum mengerti apa dan bagaimana panggilan Tuhan….. Rupanya mengenal Panggilan Allah adalah sesuatu yang tak mudah dilakukan. Samuel mengira yang memanggilnya adalah Imam ELI. Hal itu hingga tiga terjadi, dan akhirnya ia menyadari “panggilan Allah” dan menanggapinya. ISI PANGGILAN itu adalah tugas perutusan agar Samuel melakukan pembaruan, pemulihan, dan mewujudkan perubahan dalam bait Allah demi kemuliaan nama Tuhan.
Bacaan II (I KORINTUS 6: 12 – 20). Rasul Paulus menegaskan tentang perlunya orang Kristen selaku Pengikut Kristus wajib memiliki prinsip-prinsip moralitas yang baik dan benar. Memang, Kristen bukan agama syariah (dengan aturan yang ketat tentang “yang halal” dan “yang haram” , serta tentang “yang sah” dan “yang tidak sah” ) Kristen adalah agama Kasih Karunia. Itulah sebabnya, bentuk dan arah rumah ibadah; cara dan arah doa, cara babtisan, dalam Alkitab tidak ditentukan secara detail. Tetapi itu jangan diartikan bebas se-bebas-bebasnya. Jangan membiarkan diri hanyut pada kebebasan yang melahirkan dosa. I Kor. 6:12 mengatakan: Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.
Bila terbiasa sama sekali bebas, maka tidak memiliki pengendalian diri, dan bila hidup tanpa pengendalian diri maka akan melahirkan dosa. Ada dua macam dosa yang menjadi kelemahan orang Korintus waktu itu, yaitu: Dosa Seksual (ayat 18) dan Dosa Makan (ayat 13).
ALASAN POKOK yang diungkap oleh Paulus sehingga perlu ada pengendalian diri adalah:
Orang Kristen secara hakiki adalah ANGGOTA TUBUH KRISTUS maka harus hidup dalam kekudusan dan tidak semestinya menajiskan diri dengan hubungan sex di luar nikah (bukan dengan isteri/suami) – sekalipun barangkali dilakukan atas nama suka-sama suka; mau sama mau atau sama-sama butuh. Orang Kristen tidak semestinya hidup dalam kenajisan perselingkuhan dengan alas an apapun juga. Begitu juga orang Kristen tidak semestinya memiliki pola hidup, pola makan yang bebas banget sehingga apa saja dimakan tanpa pengendalian diri. Memang tidak ayat dalam Alkitab yang berbunyi “dilarang merokok” ; namun orang Kristen yang bijaksana akan bisa membuat keputusan yang tepat tentang hal ini. Bukankah rokok membuat kita ketagihan dan memperbudak kita? Ingat: Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.
Setiap Pengikut Kristus yang sejati dipanggil untuk hidup kudus, dengan menjaga sikap hidupnya sesuai dengan prinsip kebenaran Allah, untuk melakukan pelayanan sesuai kehendak-NYA karena diri kita telah ditebus melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
Bacaan III (YOHANES 1: 43 – 51) menceritakan tentang kisah panggilan yang bervariasi dari : Andreas, Simon Petrus, Filipus, Natanael. Mekipun proses panggilannya tidak sama, namun mereka adalah orang-orang terpilih yang dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk menjadi pengikutnya. Panggilan itu terjadi bukan karena mereka adalah orang-orang yang lebih baik, lebih sukses, lebih taat, lebih suci… BUKAN. Yang pasti panggilan itu dilandasi oleh kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus.
2. KESIMPULAN:
2.1. TUHAN Allah menghendaki kita sebagai Pengikut Kristus untuk menjadi umat-Nya yang hidup dalam kekudusan dan berkarya bagi pembaruan dan pemulihan demi kemuliaan nama Tuhan.
2.2. Orang Kristen secara hakiki adalah ANGGOTA TUBUH KRISTUS maka harus hidup dalam kekudusan dan tidak semestinya menajiskan diri dengan berbagai macam dosa (termasuk dosa makan dan dosa seksual)
2.3. Setiap Pengikut Kristus yang sejati dipanggil untuk hidup kudus, dengan menjaga sikap hidupnya sesuai dengan prinsip kebenaran Allah, untuk melakukan pelayanan sesuai kehendak-NYA karena diri kita telah ditebus melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
3. SARASEHAN
Pada jaman ini, ternyata masih ada warga jemaat yang belum sepenuhnya memahami: (a).makna panggilan Allah, (b).proses panggilan Allah yang bervariasi (berbeda satu dengan lainnya) dan (c).cara menjawab Panggilan Allah seperti yang dilakukan oleh Samuel, Petrus, Andreas, Filipus, Natanael dan orang beriman lainnya.
Berdasarkan Bacaan Alkitab pada pekan ini: APAKAH yang dimaksud dengan Panggilan Allah dan Konsekwensinya? Jelaskan!
Bagaimana tanggapan anda ketika mendengar ada orang (warga gereja tertentu) yang bersaksi bahwa ia baru saja menerima bisikan roh kudus tentang suatu hal yang sangat praktis (Misalnya: ia merasa diminta roh Kudus untuk menjual rumahnya atau suatu barang tertentu? Hal-hal apa yang perlu dilakukan agar kita bisa dengan cermat dan benar memahami dan menerima serta menanggapi Panggilan Tuhan? Jelaskan (LES)
_____________________________________________
4. POKOK-POKOK DOA:
a. Doakan agar kita semakin memiliki kedewasaan iman makna Panggilan dan Penerapannya secara nyata dalam kehidupan
b. Doakan untuk Peresmian pelayanan Klinik Holistik MITRA HUSADA GKJ Purworejo, oleh Bupati Pwr . tgl. 3 Pebruari 2009 yad.
c. Doakan untuk Rencana REHAB BERAT pastori Jl. Jend. Sudirman 11 Purworejo.
Bacaan I : I SAMUEL 3: 1 – 10
Antar Bacaan: Mazmur 139: 1 – 6, 13-18
Bacaan II : I KORINTUS 6: 12 – 20
Bacaan III: YOHANES 1: 43 – 51
Tujuan:
Anggota Jemaat dapat memiliki kepekaan dan mampu merespon panggilan Allah, sehingga mereka dapat secara efektif terlibat dalam karya pemulihan Allah secara menyeluruh.
1. Pengantar PA Kali ini
Bacaan I (I SAMUEL 3: 1 – 10) adalah kisah panggilan Samuel yang masih sangat muda. Pada waktu itu, firman TUHAN jarang dinyatakan, penglihatan-penglihatan spiritual pun jarang terjadi - ayat 1. Hal ini terjadi karena konteks kehidupan dalam dosa telah menjadi suatu budaya baru, sehingga agama yang semestinya menjadi sumber inspirasi, telah berubah menjadi alat dan diperalat untuk kepentingan-kepentingan politis, ekonomi, social kemasyarakatan, dll. Lihat saja kehidupan keluarga Imam Eli yang menjadi tokoh agama dan imam (begitu juga anak-anaknya) namun memiliki perilaku yang amat buruk (I Sam.2: 12-17). Dosa yang mereka lakukan teramat parah, dari dosa-dosa yang berkaitan dengan proses ibadah, hingga dosa-dosa seksualdi lingkungan rumah ibadah! (I Sam.2:22).
Samuel menerima Panggilan TUHAN. Namun ia bingung karena panggilan Tuhan jarang terjadi, dan ia juga belum mengerti apa dan bagaimana panggilan Tuhan….. Rupanya mengenal Panggilan Allah adalah sesuatu yang tak mudah dilakukan. Samuel mengira yang memanggilnya adalah Imam ELI. Hal itu hingga tiga terjadi, dan akhirnya ia menyadari “panggilan Allah” dan menanggapinya. ISI PANGGILAN itu adalah tugas perutusan agar Samuel melakukan pembaruan, pemulihan, dan mewujudkan perubahan dalam bait Allah demi kemuliaan nama Tuhan.
Bacaan II (I KORINTUS 6: 12 – 20). Rasul Paulus menegaskan tentang perlunya orang Kristen selaku Pengikut Kristus wajib memiliki prinsip-prinsip moralitas yang baik dan benar. Memang, Kristen bukan agama syariah (dengan aturan yang ketat tentang “yang halal” dan “yang haram” , serta tentang “yang sah” dan “yang tidak sah” ) Kristen adalah agama Kasih Karunia. Itulah sebabnya, bentuk dan arah rumah ibadah; cara dan arah doa, cara babtisan, dalam Alkitab tidak ditentukan secara detail. Tetapi itu jangan diartikan bebas se-bebas-bebasnya. Jangan membiarkan diri hanyut pada kebebasan yang melahirkan dosa. I Kor. 6:12 mengatakan: Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.
Bila terbiasa sama sekali bebas, maka tidak memiliki pengendalian diri, dan bila hidup tanpa pengendalian diri maka akan melahirkan dosa. Ada dua macam dosa yang menjadi kelemahan orang Korintus waktu itu, yaitu: Dosa Seksual (ayat 18) dan Dosa Makan (ayat 13).
ALASAN POKOK yang diungkap oleh Paulus sehingga perlu ada pengendalian diri adalah:
Orang Kristen secara hakiki adalah ANGGOTA TUBUH KRISTUS maka harus hidup dalam kekudusan dan tidak semestinya menajiskan diri dengan hubungan sex di luar nikah (bukan dengan isteri/suami) – sekalipun barangkali dilakukan atas nama suka-sama suka; mau sama mau atau sama-sama butuh. Orang Kristen tidak semestinya hidup dalam kenajisan perselingkuhan dengan alas an apapun juga. Begitu juga orang Kristen tidak semestinya memiliki pola hidup, pola makan yang bebas banget sehingga apa saja dimakan tanpa pengendalian diri. Memang tidak ayat dalam Alkitab yang berbunyi “dilarang merokok” ; namun orang Kristen yang bijaksana akan bisa membuat keputusan yang tepat tentang hal ini. Bukankah rokok membuat kita ketagihan dan memperbudak kita? Ingat: Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.
Setiap Pengikut Kristus yang sejati dipanggil untuk hidup kudus, dengan menjaga sikap hidupnya sesuai dengan prinsip kebenaran Allah, untuk melakukan pelayanan sesuai kehendak-NYA karena diri kita telah ditebus melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
Bacaan III (YOHANES 1: 43 – 51) menceritakan tentang kisah panggilan yang bervariasi dari : Andreas, Simon Petrus, Filipus, Natanael. Mekipun proses panggilannya tidak sama, namun mereka adalah orang-orang terpilih yang dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk menjadi pengikutnya. Panggilan itu terjadi bukan karena mereka adalah orang-orang yang lebih baik, lebih sukses, lebih taat, lebih suci… BUKAN. Yang pasti panggilan itu dilandasi oleh kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus.
2. KESIMPULAN:
2.1. TUHAN Allah menghendaki kita sebagai Pengikut Kristus untuk menjadi umat-Nya yang hidup dalam kekudusan dan berkarya bagi pembaruan dan pemulihan demi kemuliaan nama Tuhan.
2.2. Orang Kristen secara hakiki adalah ANGGOTA TUBUH KRISTUS maka harus hidup dalam kekudusan dan tidak semestinya menajiskan diri dengan berbagai macam dosa (termasuk dosa makan dan dosa seksual)
2.3. Setiap Pengikut Kristus yang sejati dipanggil untuk hidup kudus, dengan menjaga sikap hidupnya sesuai dengan prinsip kebenaran Allah, untuk melakukan pelayanan sesuai kehendak-NYA karena diri kita telah ditebus melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
3. SARASEHAN
Pada jaman ini, ternyata masih ada warga jemaat yang belum sepenuhnya memahami: (a).makna panggilan Allah, (b).proses panggilan Allah yang bervariasi (berbeda satu dengan lainnya) dan (c).cara menjawab Panggilan Allah seperti yang dilakukan oleh Samuel, Petrus, Andreas, Filipus, Natanael dan orang beriman lainnya.
Berdasarkan Bacaan Alkitab pada pekan ini: APAKAH yang dimaksud dengan Panggilan Allah dan Konsekwensinya? Jelaskan!
Bagaimana tanggapan anda ketika mendengar ada orang (warga gereja tertentu) yang bersaksi bahwa ia baru saja menerima bisikan roh kudus tentang suatu hal yang sangat praktis (Misalnya: ia merasa diminta roh Kudus untuk menjual rumahnya atau suatu barang tertentu? Hal-hal apa yang perlu dilakukan agar kita bisa dengan cermat dan benar memahami dan menerima serta menanggapi Panggilan Tuhan? Jelaskan (LES)
_____________________________________________
4. POKOK-POKOK DOA:
a. Doakan agar kita semakin memiliki kedewasaan iman makna Panggilan dan Penerapannya secara nyata dalam kehidupan
b. Doakan untuk Peresmian pelayanan Klinik Holistik MITRA HUSADA GKJ Purworejo, oleh Bupati Pwr . tgl. 3 Pebruari 2009 yad.
c. Doakan untuk Rencana REHAB BERAT pastori Jl. Jend. Sudirman 11 Purworejo.
Senin, 12 Januari 2009
Menguak Kembali Makna SAKRAMEN BABTIS
PENGANTAR:
Bacaan I (KISAH PARA RASUL 19: 1 – 7). Di awal bagian ini terungkap bahwa: “Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid”. Pada bagian awal terungkap tentang nama APOLOS. Lukas menceritakan kepada kita bahwa Apolos adalah tokoh yang unik. Ia percaya kepada Yesus, walau ia belum menerima babtisan para Rasul, namun ia pernah menerima babtisan Yohanes. Apolos meyakini imannya dan cakap mengajar tentang iman Kristen. Menarik sekali bahwa Apolos ternyata tidak dibabtis ulang oleh Paulus maupun oleh para Rasul lainnya. Setelah itu Lukas menceritakan tentang pertemuan Rasul Paulus dengan beberapa orang Kristen (Luk.19:2). Jumlah mereka ada 12 orang (ayat 7). Sayang sekali, mereka mengaku Kristen namun belum menerima karunia Roh Kudus, bahkan belum pernah tahu mengenai Roh Kudus. Ini aneh tapi nyata. Peristiwa ini terjadi sekitar 25 tahun setelah peristiwa Pentakosta.
Jika mereka murid Yesus, pasti mengetahui tentang Roh Kudus dan babtisan dalam nama Bapa – Anak – dan Roh Kudus. Demikian juga, jika mereka orang Yahudi, pasti mereka tahun tentang keberadaan Roh Kudus. Jadi, kemungkinan besar mereka adalah orang-orang non Yahudi yang tertarik ikut babtisan Yohanes namun tanpa diikuti dasar iman yang mendalam. Maka kata Paulus kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus."
Lalu kata Paulus kepada mereka: "Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?" Jawab mereka: "Dengan baptisan Yohanes." (Kis Pr. 19: 2 – 3)
Kata Paulus: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus." Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. (Kis Pr. 19: 4 – 5).
Perhatikanlah bagaimana Paulus menerangkan tentang arti babtisan Yohanes sebagai “babtisan pertobatan”!. Jangan lupa bahwa kehadiran Yohanes Pembabtisa adalah kehadiran untuk menyadarkan orang mengenai segala dosa mereka, lalu menyerukan bahwa pertobatan adalah langkah penting bagi orang percaya. Setelah mengaku dosa dan bertobat, barulah mereka siap menerima dan meyakini anugerah keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Yohanes adalah pembuka jalan yang menggiring orang untuk datang dan percaya kepada Yesus.
12 orang ini menerima babtisan Yohanes (melalui murid Yohanes Pembabtis – karena kejadiannya 25 tahun setelah Pentakosta, jadi Yohanes Pembabtis sudah lama sekali wafat). Namun, meskipun dibabtis dengan babtisan Yohanes, namun mereka belum mengaku dosa dan bertobat, dan juga belum datang untuk percaya pada Yesus; tak heran merak belum mengerti tentang Roh Kudus; itu berarti bahwa babtisan ala Yohanes yang mereka terima sama sekali tidak sah.
12 orang ini setelah menerima penjelasan Paulus lalu memberi diri dibabtis di dalam nama Yesus (yaitu BABTISAN AIR dalam nama BAPA-ANAK-dan ROH KUDUS). Babtisan dalam nama Yesus bukan babtisan Pertobatan (seperti Yohanes) melainkan sebuah meterai keselamatan yang ada di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Di sinilah perbedaan 12 orang ini dengan Apolos. Apolos juga menerima babtisan Yohanes, namun ia tidak dibabtis ulang seperti mereka, sebab Apolos telah melalui proses pengakuan dosa dan pertobatan lalu memiliki iman dan keyakinan kepada Tuhan Yesus sebagai Juru selamatnya. Jadi, jelaslah sekarang bahwa orang yang menerima babtisan Yohanes dan percaya pada Yesus tidak perlu dibabtis ulang!.
Pantas dicatat bahwa selain kisah 12 orang yang diabtis ulang tsb. Di atas, bahwa ternyata dalam teks Alkitab tidak pernah dilaporkan adanya kisah lain tentang babtis ulang!. Karena yang penting adalah BABTIS DALAM NAMA YESUS (yaitu dalam nama BAPA, ANAK, dan ROH KUDUS) yang membawa keselamatan sejati. Jadi Babtis Ulang Tidak Diperlukan lagi! Setelah babtisan dalam nama Yesus dilakukan, barulan mereka menerima karunia Roh Kudus.
Bacaan II (MARKUS 1: 4 – 11). Menceritakan tentang Babtisan ala Yohanes Pembabtis, yang merupakan tanda Pertobatan, yakni babtisan untuk mempersiapkan diri menuju kedatangan Mesias. Persoalannya adalah bahwa ALKITAB tidak menyebutkan dengan pasti bagaimana cara babtisan Yohanes. Apakah selam Separoh badan? Apakah selam seluruh badan? Apakah dicurahi air di bagian kepalanya? Ataukah diperciki air?. Yang pasti, tanda babtisan itulah yang penting, bukan caranya! Demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu." Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.
Yohanes mewartakan bahwa : "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus." (ayat 4 – 8).
Yang dimaksud dengan BABTISAN ROH KUDUS (ho babtizon- terus menerus membabtis) ternyata BUKAN suatu tindakan ritual keagamaan, melain suatu proses dinamis kedekatan orang percaya dengan Tuhan Yesus. Jadi Babtisan Roh Kudus, tidak dilakukan oleh Gereja/Rasul/Pendeta, melainkan secara pribadi sebagai karya Tuhan bagi orang-orang percaya. Setelah itu Yohanes Pembabtis juga melayani babtisan untuk Yesus sebagai tanda solidaritas-Nya dengan manusia. Ia yang tak berdosa memposisikan diri sebagai orang berdosa. Tiba-tiba langit terkoyak, dan Roh Allah turun (seperti burung merpati) ke atas-Nya. Inilah tanda pengukuhan diri-Nya.
KESIMPULAN:
TANDA sebagai orang yang percaya adalah BABTISAN di dalam nama Bapa Anak dan Roh Kudus. Makna Babtisan lebih utama dan bukan caranya. Tidak ada ajaran dalam Alkitab yang menyuruh kita untuk babtis ulang (kecuali dari babtisan Yohanes pada jaman Paulus, itupunhanya satu kali terjadi dalam kasus khusus). Cara babtisan bisa berbeda namun tetap harus dilakukan dalam nama Bapa-Anak-Roh Kudus.
BABTISAN yang telah dilakukan akan membawa orang untuk disatukan dengan relasi khusus dengan Tuhan, sehingga orang mengalami “proses pemulihan” dan “pertobatan” secara terus menerus. Roh Kudus terus berkarya dalam hidup orang beriman sehingga mengalami perubahan hidup yang nyata di dalam Tuhan. Di sinilah letak karya Babtisan Roh Kudus oleh Tuhan Yesus. Babtisan Roh Kudus bukan tindakan ritual di gereja.
TINDAK LANJUT BABTISAN adalah komitmen yang kuat untuk hidup dalam pertobatan yang melahirkan spiritualitas kehidupan yang nyata sebagai orang percaya. Kita percaya bahwa pengampunan dosa dan janji keselamatan di dalam Yesus menjadi bagian hidup kita.Keyakinan it uterus menerus diulang dan diingatkan melalui ikrar Pengakuan Iman Rasuli yang kita ucapkan bersama-sama.
RENUNGAN & SARASEHAN
Pada jaman ini, ternyata masih ada warga jemaat yang belum sepenuhnya memahami tentang makna babtisan secara alkitabiah seperti yang dianut oleh GKJ. Tak heran kalau kemudian ragu-ragu, lalu diam-diam terpengaruh lalu ikut “babtis ulang” di gereja lain. Hal ini ada yang melakukannya secara terbuka, ada juga yang diam-diam (jawa:sesidheman). Alasannya: Mereka tidak yakin akan kebenaran babtisan ala GKJ. Mereka bahkan mempertanyakan keabsahan babtisan GKJ, yang dianggap belum lengkap, belum Alkitabiah, dan (lebih konyol lagi) dianggap tidak ada Roh Kudus-nya.
Apakah anda pernah memiliki/ melihat pengalaman seperti itu?
Bagaimana tanggapan anda ketika mendengar ada orang (warga gereja lain?) yang dengan penuh kesombongan menghakimi bahwa di gereja kita tidak ada karya Roh Kudus?
Hal-hal apa yang perlu dilakukan sebagai buah pertobatan sehingga kita mengalami proses pemulihan dan pertobatan yang terus menerus melalui babtisan Roh Kudus secara pribadi? Jelaskan!. (LES)
Bacaan I (KISAH PARA RASUL 19: 1 – 7). Di awal bagian ini terungkap bahwa: “Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid”. Pada bagian awal terungkap tentang nama APOLOS. Lukas menceritakan kepada kita bahwa Apolos adalah tokoh yang unik. Ia percaya kepada Yesus, walau ia belum menerima babtisan para Rasul, namun ia pernah menerima babtisan Yohanes. Apolos meyakini imannya dan cakap mengajar tentang iman Kristen. Menarik sekali bahwa Apolos ternyata tidak dibabtis ulang oleh Paulus maupun oleh para Rasul lainnya. Setelah itu Lukas menceritakan tentang pertemuan Rasul Paulus dengan beberapa orang Kristen (Luk.19:2). Jumlah mereka ada 12 orang (ayat 7). Sayang sekali, mereka mengaku Kristen namun belum menerima karunia Roh Kudus, bahkan belum pernah tahu mengenai Roh Kudus. Ini aneh tapi nyata. Peristiwa ini terjadi sekitar 25 tahun setelah peristiwa Pentakosta.
Jika mereka murid Yesus, pasti mengetahui tentang Roh Kudus dan babtisan dalam nama Bapa – Anak – dan Roh Kudus. Demikian juga, jika mereka orang Yahudi, pasti mereka tahun tentang keberadaan Roh Kudus. Jadi, kemungkinan besar mereka adalah orang-orang non Yahudi yang tertarik ikut babtisan Yohanes namun tanpa diikuti dasar iman yang mendalam. Maka kata Paulus kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus."
Lalu kata Paulus kepada mereka: "Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?" Jawab mereka: "Dengan baptisan Yohanes." (Kis Pr. 19: 2 – 3)
Kata Paulus: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus." Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. (Kis Pr. 19: 4 – 5).
Perhatikanlah bagaimana Paulus menerangkan tentang arti babtisan Yohanes sebagai “babtisan pertobatan”!. Jangan lupa bahwa kehadiran Yohanes Pembabtisa adalah kehadiran untuk menyadarkan orang mengenai segala dosa mereka, lalu menyerukan bahwa pertobatan adalah langkah penting bagi orang percaya. Setelah mengaku dosa dan bertobat, barulah mereka siap menerima dan meyakini anugerah keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Yohanes adalah pembuka jalan yang menggiring orang untuk datang dan percaya kepada Yesus.
12 orang ini menerima babtisan Yohanes (melalui murid Yohanes Pembabtis – karena kejadiannya 25 tahun setelah Pentakosta, jadi Yohanes Pembabtis sudah lama sekali wafat). Namun, meskipun dibabtis dengan babtisan Yohanes, namun mereka belum mengaku dosa dan bertobat, dan juga belum datang untuk percaya pada Yesus; tak heran merak belum mengerti tentang Roh Kudus; itu berarti bahwa babtisan ala Yohanes yang mereka terima sama sekali tidak sah.
12 orang ini setelah menerima penjelasan Paulus lalu memberi diri dibabtis di dalam nama Yesus (yaitu BABTISAN AIR dalam nama BAPA-ANAK-dan ROH KUDUS). Babtisan dalam nama Yesus bukan babtisan Pertobatan (seperti Yohanes) melainkan sebuah meterai keselamatan yang ada di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Di sinilah perbedaan 12 orang ini dengan Apolos. Apolos juga menerima babtisan Yohanes, namun ia tidak dibabtis ulang seperti mereka, sebab Apolos telah melalui proses pengakuan dosa dan pertobatan lalu memiliki iman dan keyakinan kepada Tuhan Yesus sebagai Juru selamatnya. Jadi, jelaslah sekarang bahwa orang yang menerima babtisan Yohanes dan percaya pada Yesus tidak perlu dibabtis ulang!.
Pantas dicatat bahwa selain kisah 12 orang yang diabtis ulang tsb. Di atas, bahwa ternyata dalam teks Alkitab tidak pernah dilaporkan adanya kisah lain tentang babtis ulang!. Karena yang penting adalah BABTIS DALAM NAMA YESUS (yaitu dalam nama BAPA, ANAK, dan ROH KUDUS) yang membawa keselamatan sejati. Jadi Babtis Ulang Tidak Diperlukan lagi! Setelah babtisan dalam nama Yesus dilakukan, barulan mereka menerima karunia Roh Kudus.
Bacaan II (MARKUS 1: 4 – 11). Menceritakan tentang Babtisan ala Yohanes Pembabtis, yang merupakan tanda Pertobatan, yakni babtisan untuk mempersiapkan diri menuju kedatangan Mesias. Persoalannya adalah bahwa ALKITAB tidak menyebutkan dengan pasti bagaimana cara babtisan Yohanes. Apakah selam Separoh badan? Apakah selam seluruh badan? Apakah dicurahi air di bagian kepalanya? Ataukah diperciki air?. Yang pasti, tanda babtisan itulah yang penting, bukan caranya! Demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu." Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.
Yohanes mewartakan bahwa : "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus." (ayat 4 – 8).
Yang dimaksud dengan BABTISAN ROH KUDUS (ho babtizon- terus menerus membabtis) ternyata BUKAN suatu tindakan ritual keagamaan, melain suatu proses dinamis kedekatan orang percaya dengan Tuhan Yesus. Jadi Babtisan Roh Kudus, tidak dilakukan oleh Gereja/Rasul/Pendeta, melainkan secara pribadi sebagai karya Tuhan bagi orang-orang percaya. Setelah itu Yohanes Pembabtis juga melayani babtisan untuk Yesus sebagai tanda solidaritas-Nya dengan manusia. Ia yang tak berdosa memposisikan diri sebagai orang berdosa. Tiba-tiba langit terkoyak, dan Roh Allah turun (seperti burung merpati) ke atas-Nya. Inilah tanda pengukuhan diri-Nya.
KESIMPULAN:
TANDA sebagai orang yang percaya adalah BABTISAN di dalam nama Bapa Anak dan Roh Kudus. Makna Babtisan lebih utama dan bukan caranya. Tidak ada ajaran dalam Alkitab yang menyuruh kita untuk babtis ulang (kecuali dari babtisan Yohanes pada jaman Paulus, itupunhanya satu kali terjadi dalam kasus khusus). Cara babtisan bisa berbeda namun tetap harus dilakukan dalam nama Bapa-Anak-Roh Kudus.
BABTISAN yang telah dilakukan akan membawa orang untuk disatukan dengan relasi khusus dengan Tuhan, sehingga orang mengalami “proses pemulihan” dan “pertobatan” secara terus menerus. Roh Kudus terus berkarya dalam hidup orang beriman sehingga mengalami perubahan hidup yang nyata di dalam Tuhan. Di sinilah letak karya Babtisan Roh Kudus oleh Tuhan Yesus. Babtisan Roh Kudus bukan tindakan ritual di gereja.
TINDAK LANJUT BABTISAN adalah komitmen yang kuat untuk hidup dalam pertobatan yang melahirkan spiritualitas kehidupan yang nyata sebagai orang percaya. Kita percaya bahwa pengampunan dosa dan janji keselamatan di dalam Yesus menjadi bagian hidup kita.Keyakinan it uterus menerus diulang dan diingatkan melalui ikrar Pengakuan Iman Rasuli yang kita ucapkan bersama-sama.
RENUNGAN & SARASEHAN
Pada jaman ini, ternyata masih ada warga jemaat yang belum sepenuhnya memahami tentang makna babtisan secara alkitabiah seperti yang dianut oleh GKJ. Tak heran kalau kemudian ragu-ragu, lalu diam-diam terpengaruh lalu ikut “babtis ulang” di gereja lain. Hal ini ada yang melakukannya secara terbuka, ada juga yang diam-diam (jawa:sesidheman). Alasannya: Mereka tidak yakin akan kebenaran babtisan ala GKJ. Mereka bahkan mempertanyakan keabsahan babtisan GKJ, yang dianggap belum lengkap, belum Alkitabiah, dan (lebih konyol lagi) dianggap tidak ada Roh Kudus-nya.
Apakah anda pernah memiliki/ melihat pengalaman seperti itu?
Bagaimana tanggapan anda ketika mendengar ada orang (warga gereja lain?) yang dengan penuh kesombongan menghakimi bahwa di gereja kita tidak ada karya Roh Kudus?
Hal-hal apa yang perlu dilakukan sebagai buah pertobatan sehingga kita mengalami proses pemulihan dan pertobatan yang terus menerus melalui babtisan Roh Kudus secara pribadi? Jelaskan!. (LES)
Jumat, 12 Desember 2008
RENUNGAN: BERIBADAHLAH KEPADA ALLAH
Beribadah Kepada Allah
Bacaan Maleakhi 3: 13 – 18
Bacaan Maleakhi 3: 13 – 18
Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya. (Maleakhi 3:18)
Pada jaman perjanjian lama, ibadah yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman dinyatakan melalui ketaatan mereka pada berbagai syariat keagamaan yang dinyatakan Allah melalui Musa. Sedangkan pada jaman Perjanjian Baru, ibadah yang dilakukan kepada Allah dinyatakan melalui ketaatan dan penyerahan diri kepada Tuhan Yesus Kristus. Jadi, dari dulu sampai sekarang, orang beriman memiliki ciri khusus yang sama, yaitu orang yang senantiasa BERIBADAH kepada Allah. Sebaliknya, orang fasik adalah orang yang tidak beribadah kepada Allah.
Beribadah kepada Allah berarti percaya dan melakukan kehendak-Nya, seperti: mempersembahkan segenap hidup kepada-Nya (Roma 12:1), melakukan perbuatan baik (I Tim.2:10), bahkan Yakobus menegaskan: Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia (Yakobus 1:26-27)
Sekarang saatnya kita bisa menilai diri kita sendiri: Apakah kita layak disebut sebagai orang yang menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya? Ataukah kita justru terhitung sebagai orang fasik. (LES)
BERIBADAH-LAH HANYA KEPADA ALLAH
DALAM SEGENAP KEHIDUPANMU
Beribadah kepada Allah berarti percaya dan melakukan kehendak-Nya, seperti: mempersembahkan segenap hidup kepada-Nya (Roma 12:1), melakukan perbuatan baik (I Tim.2:10), bahkan Yakobus menegaskan: Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia (Yakobus 1:26-27)
Sekarang saatnya kita bisa menilai diri kita sendiri: Apakah kita layak disebut sebagai orang yang menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya? Ataukah kita justru terhitung sebagai orang fasik. (LES)
BERIBADAH-LAH HANYA KEPADA ALLAH
DALAM SEGENAP KEHIDUPANMU
Kamis, 11 Desember 2008
KARYA PEMULIHAN ALLAH DI DALAM YESUS

KHOTBAH MALAM NATAL 24 Desember 2008
Bapak, Ibu, Saudara segenap jemaat Tuhan yang terkasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Selamat Natal. Khotbah kali ini mengangkat tema: Karya Pemulihan Allah kini telah nyata, berdasarkan kesaksian Injil Lukas 2: 1 – 14 , dengan tujuan kita bisa memahami makna karya pemulihan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus; sehingga sebagai warga jemaat kita terdorong untuk membuka diri terhadap karya pemulihan Allah dan bersedia bersaksi dalam kehidupan masing-masing di manapun berada.
Jemaat Tuhan YTK.
Penghayatan Natal yang sejati, sesunggunya bukan terletak pada pemaknaan tanggal lahirnya Yesus. Juga tidak terletak pada kulit luarnya dengan aneka assesoris /hiasan-hisasan natal. Lebih dari itu Natal adalah pemaknaan terhadap PULIHNYA RELASI MANUSIA DENGAN ALLAH DAN SESAMANYA.
Persoalan kita sekarang adalah bahwa Natal seringkali hanya dimaknai pada sisi kulit luarnya saja, sehingga orang terlalu sibuk dengan hiruk-pikuk natal yang kurang penting, seperti: pohon terang dengan berbagai hiasannya yang kelewat mahal, lalu hadiah-hadiah natal, serta berbagai acara pesta sekitar natal; sementara itu inti natal : pulihnya relasi manusia dengan Allah dan sesama manusia malah cenderung terlupakan. Tak heran, natal lalu berhenti menjadi sebuah tradisi beku yang tidak mengubah perilaku kekristenan. Padahal Di dalam Yesus karya pemulihan Allah menjadi nyata.
Karya pemulihan itu memiliki dua dimensi penting, yakni dimensi illahi yang menyangkut pembaharuan relasi manusia dengan TUHAN serta dimensi manusiawi yang menyangkut relasi manusia dengan sesamanya (baik sesama warga gereja, maupun lainnya). Dengan demikian, unsur penting dalam merayakan Natal yang hakiki dalam rangka menghayati pulihnya relasi manusia dengan Allah adalah terletak pada “hati yang buka pada karya pemulihan Allah”. Dalam kesaksian Injil Lukas 2: 1 – 14, kita bisa menemukan beberapa tokoh yang penting, seperti: Yusuf dan Maria serta Gembala-gembala, sebagai saksi kelahiran Yesus sementara itu Kaisar AGUSTUS adalah sebagai tokoh luar.
Munculnya tokoh Kaisar Agustus berfungsi untuk menegaskan bahwa Yesus bukan sekedar ada dalam perspektif local (Yahudi) melainkan dalam perspektif internasional karena ditempatkan dalam sejarah dunia dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus. Kaisar Agustus sebenarnya bernama Gains Yulius Caesar Octavianus. Ia memerintah dari tahun 30 sebelum Masehi, hingga tahun 14 Masehi. Dan pada tahun 27 ia mendapat gelar AGUSTUS (yang berarti: “yang mulia”). Ia dimuliakan sebagai seorang dewa, bahkan diterima sebagai “juru selamat dunia”. Namun Injil Lukas menegaskan bahwa Yesuslah yang nanti layak sebagai Juruselamat dunia, bukan Kaisar Agustus yang sedang melakukan sensus penduduk yang salah satunya adalah untuk kepentingan penarikan pajak.
Tokoh sentral Yusuf dan Maria bisa menjadi teladan utama kita. Mereka pergi juga ke Betlehem (sekarang Beth Lahm) sebagai tanda ketaatan. Mereka pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem. Yaitu sebuah kota kecil yang terkenal karena itu adalah kota kelahiran Raja Daud (I Sam.16:1). Dengan menempuh perjalanan sekitar 170 Km, dengan berjalan kaki. Untuk itu biasanya mereka harus melakukan perjalanan paling cepat selama 5 hari; dengan kondisi jalan waktu itu, yang masih rusak, berdebu, dengan cuaca panas terik, kekurangan air, tak ada tempat yang memadai untuk beristirahat tentu ini adalah sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan, terutama bagi Maria yang sedang hamil. Begitulah, begitu mereka tiba di Betlehem tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.
Jemaat Tuhan Ytk.
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Malaikat itu segera memberitakan INJIL (khabar sukacita) untuk seluruh bangsa!. Jelas bukan bahwa kedatangan Yesus memang bukan untuk oranhg Yahudi saja, melainkan untuk seluruh bangsa di dunia ini. INJIL itu berbunyi begini: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud (di Betlehem, atau Beth Lahm). Agar lebih jelas lagi malaikat itu memberikan tanda lahiriah, yaitu: “Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
Dan tanda lainnya adalah tentang nama Bayi yang baru lahir itu (ayat 11) yang disebut:
(1). JURUSELAMAT. Dalam bahasa Yunani dipakai istilah Soter yang berarti Penyelamat, Pelepas, Penolong. Yang hendak menyelamatkan dunia dan manusia. Adalah menarik karena kata ini aslinya dipakai oleh para Kaisar sebagai gelar karena dianggap sebagai “juru selamat”. Namun Yesuslah soter yang sejati itu.
(2). KRISTUS. Dalam bahasa Yunani memakai istilah Christos. Dibentuk dari kata chrio, sebagai terjemahan dari kata Ibrani Mesias atau Al Maseh yang berarti yang diurapi. Artinya menjadi jelas bahwa Yesus adalah Mesias yang sejati.
(3). TUHAN. Dalam bahasa Yunani memakai istilah Kyrios yang dapat diterjemahkan sebagai Tuhan, Tuan, Gusti. Gelar ini memang dipakai secara umum, baik oleh orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lain. Makna yang dimaksudkan menunjuk pada kemesiasan Yesus yang berlaku tak hanya bagi bangsa Yahudi, tetapi bagi bangsa-bangsa lain juga, untuk mengakui kekuasan dan kewibawaanNya.
Saudara, sedang tokoh penting lainnya adalah gembala-gembala. Istilah gembalap-gembala pada masa itu memiliki makna yang negative. Mereka adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, kasar, dan sering tidak mengindahkan macam-macam peraturan dalam masyarakat. Tak heran bahwamenurut tradisi, para Rabi Yahudi memangdang rendah gembala-gembala, karena mereka biasanya memang tidak mempedulikan agama, sering tidak jujur, dan oleh sebab itu sesuai dengan peraturan Yahudi bahwa gembala tidak diijinkan menjadi saksi di depan pengadilan. Rupanya Lukas menegaskan bahwa memang Kristus datang untuk memanggil dan menyelamatkan yang hilang (bdk. Luk. 19:10). Seperti Kristus telah lahir di sebuah kandang yang hina, begitu juga Injil justru pertama-tama didengar oleh para gembala yang hina dan papa. Dan mereka yang secara tradisi tidak diijinkan menjadi saksi, justru dipilih Tuhan sebagai saksi pertama akan kelahiran Sang Mesias.
Jemaat Tuhan Ytk.
Perikop yang kita bahas ini diakhiri dengan sebuah nyanyian (kidung) yang dinyanyikan oleh paduan suara malaikat. Nyanyian ini mengandung dua hal penting, yaitu: (a).kemuliaan bagi Allah yang di sorga dan (b).kesejahteraan/keselamatan bagi umat manusia di bumi. Jadi berita natal ini memberi ketegasan penting bahwa sudah ada pemulihan relasi (syaloom = damai sejahtera) secara nyata antara Allah dan Manusia, antara sorga dan bumi; sehingga manusia dipulihkan kembali dalam relasi yang baik dengan Allah serta dengan sesama manusia, dengan satu syarat: Bahwa manusia hendaknya mau membuka diri untuk menerima pemulihan relasi tersebut.
Jemaat Tuhan Ytk.
Karya pemulihan Allah itu kini secara nyata tampak padan pembaharuan manusia oleh Tuhan Yesus Kristus secara dinamis. Maka dalam kebaktian Malam Natal, kesadaan untuk membuka diri dipulihkan, diproses dalam pembaharuan Kristus menjadi semakin penting. Itulah sebabnya, setelah kita menyoroti di bawah terang kesaksian Lukas 2: 1 – 14, marilah kita juga memperhatikan kesaksian dalam Mazmur 96: 2 “Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari”.
Jadi, saudara, dalam refleksi malam natal kali ini kita tahu sekarang bahwa karya pemulihaan Allah yang telah nyata itu tidak hanya dimengerti dan dipahami sebagai “pengalaman pribadi semata” melainkan juga bisa sungguh- sungguh mempengaruhi seluruh hidup dan kehidupan kita dari hari ke hari, sehingga menjadi sumber kesaksian kita pada sesama. AMIN
Selamat Natal. Khotbah kali ini mengangkat tema: Karya Pemulihan Allah kini telah nyata, berdasarkan kesaksian Injil Lukas 2: 1 – 14 , dengan tujuan kita bisa memahami makna karya pemulihan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus; sehingga sebagai warga jemaat kita terdorong untuk membuka diri terhadap karya pemulihan Allah dan bersedia bersaksi dalam kehidupan masing-masing di manapun berada.
Jemaat Tuhan YTK.
Penghayatan Natal yang sejati, sesunggunya bukan terletak pada pemaknaan tanggal lahirnya Yesus. Juga tidak terletak pada kulit luarnya dengan aneka assesoris /hiasan-hisasan natal. Lebih dari itu Natal adalah pemaknaan terhadap PULIHNYA RELASI MANUSIA DENGAN ALLAH DAN SESAMANYA.
Persoalan kita sekarang adalah bahwa Natal seringkali hanya dimaknai pada sisi kulit luarnya saja, sehingga orang terlalu sibuk dengan hiruk-pikuk natal yang kurang penting, seperti: pohon terang dengan berbagai hiasannya yang kelewat mahal, lalu hadiah-hadiah natal, serta berbagai acara pesta sekitar natal; sementara itu inti natal : pulihnya relasi manusia dengan Allah dan sesama manusia malah cenderung terlupakan. Tak heran, natal lalu berhenti menjadi sebuah tradisi beku yang tidak mengubah perilaku kekristenan. Padahal Di dalam Yesus karya pemulihan Allah menjadi nyata.
Karya pemulihan itu memiliki dua dimensi penting, yakni dimensi illahi yang menyangkut pembaharuan relasi manusia dengan TUHAN serta dimensi manusiawi yang menyangkut relasi manusia dengan sesamanya (baik sesama warga gereja, maupun lainnya). Dengan demikian, unsur penting dalam merayakan Natal yang hakiki dalam rangka menghayati pulihnya relasi manusia dengan Allah adalah terletak pada “hati yang buka pada karya pemulihan Allah”. Dalam kesaksian Injil Lukas 2: 1 – 14, kita bisa menemukan beberapa tokoh yang penting, seperti: Yusuf dan Maria serta Gembala-gembala, sebagai saksi kelahiran Yesus sementara itu Kaisar AGUSTUS adalah sebagai tokoh luar.
Munculnya tokoh Kaisar Agustus berfungsi untuk menegaskan bahwa Yesus bukan sekedar ada dalam perspektif local (Yahudi) melainkan dalam perspektif internasional karena ditempatkan dalam sejarah dunia dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus. Kaisar Agustus sebenarnya bernama Gains Yulius Caesar Octavianus. Ia memerintah dari tahun 30 sebelum Masehi, hingga tahun 14 Masehi. Dan pada tahun 27 ia mendapat gelar AGUSTUS (yang berarti: “yang mulia”). Ia dimuliakan sebagai seorang dewa, bahkan diterima sebagai “juru selamat dunia”. Namun Injil Lukas menegaskan bahwa Yesuslah yang nanti layak sebagai Juruselamat dunia, bukan Kaisar Agustus yang sedang melakukan sensus penduduk yang salah satunya adalah untuk kepentingan penarikan pajak.
Tokoh sentral Yusuf dan Maria bisa menjadi teladan utama kita. Mereka pergi juga ke Betlehem (sekarang Beth Lahm) sebagai tanda ketaatan. Mereka pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem. Yaitu sebuah kota kecil yang terkenal karena itu adalah kota kelahiran Raja Daud (I Sam.16:1). Dengan menempuh perjalanan sekitar 170 Km, dengan berjalan kaki. Untuk itu biasanya mereka harus melakukan perjalanan paling cepat selama 5 hari; dengan kondisi jalan waktu itu, yang masih rusak, berdebu, dengan cuaca panas terik, kekurangan air, tak ada tempat yang memadai untuk beristirahat tentu ini adalah sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan, terutama bagi Maria yang sedang hamil. Begitulah, begitu mereka tiba di Betlehem tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.
Jemaat Tuhan Ytk.
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Malaikat itu segera memberitakan INJIL (khabar sukacita) untuk seluruh bangsa!. Jelas bukan bahwa kedatangan Yesus memang bukan untuk oranhg Yahudi saja, melainkan untuk seluruh bangsa di dunia ini. INJIL itu berbunyi begini: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud (di Betlehem, atau Beth Lahm). Agar lebih jelas lagi malaikat itu memberikan tanda lahiriah, yaitu: “Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
Dan tanda lainnya adalah tentang nama Bayi yang baru lahir itu (ayat 11) yang disebut:
(1). JURUSELAMAT. Dalam bahasa Yunani dipakai istilah Soter yang berarti Penyelamat, Pelepas, Penolong. Yang hendak menyelamatkan dunia dan manusia. Adalah menarik karena kata ini aslinya dipakai oleh para Kaisar sebagai gelar karena dianggap sebagai “juru selamat”. Namun Yesuslah soter yang sejati itu.
(2). KRISTUS. Dalam bahasa Yunani memakai istilah Christos. Dibentuk dari kata chrio, sebagai terjemahan dari kata Ibrani Mesias atau Al Maseh yang berarti yang diurapi. Artinya menjadi jelas bahwa Yesus adalah Mesias yang sejati.
(3). TUHAN. Dalam bahasa Yunani memakai istilah Kyrios yang dapat diterjemahkan sebagai Tuhan, Tuan, Gusti. Gelar ini memang dipakai secara umum, baik oleh orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lain. Makna yang dimaksudkan menunjuk pada kemesiasan Yesus yang berlaku tak hanya bagi bangsa Yahudi, tetapi bagi bangsa-bangsa lain juga, untuk mengakui kekuasan dan kewibawaanNya.
Saudara, sedang tokoh penting lainnya adalah gembala-gembala. Istilah gembalap-gembala pada masa itu memiliki makna yang negative. Mereka adalah orang-orang yang tidak berpendidikan, kasar, dan sering tidak mengindahkan macam-macam peraturan dalam masyarakat. Tak heran bahwamenurut tradisi, para Rabi Yahudi memangdang rendah gembala-gembala, karena mereka biasanya memang tidak mempedulikan agama, sering tidak jujur, dan oleh sebab itu sesuai dengan peraturan Yahudi bahwa gembala tidak diijinkan menjadi saksi di depan pengadilan. Rupanya Lukas menegaskan bahwa memang Kristus datang untuk memanggil dan menyelamatkan yang hilang (bdk. Luk. 19:10). Seperti Kristus telah lahir di sebuah kandang yang hina, begitu juga Injil justru pertama-tama didengar oleh para gembala yang hina dan papa. Dan mereka yang secara tradisi tidak diijinkan menjadi saksi, justru dipilih Tuhan sebagai saksi pertama akan kelahiran Sang Mesias.
Jemaat Tuhan Ytk.
Perikop yang kita bahas ini diakhiri dengan sebuah nyanyian (kidung) yang dinyanyikan oleh paduan suara malaikat. Nyanyian ini mengandung dua hal penting, yaitu: (a).kemuliaan bagi Allah yang di sorga dan (b).kesejahteraan/keselamatan bagi umat manusia di bumi. Jadi berita natal ini memberi ketegasan penting bahwa sudah ada pemulihan relasi (syaloom = damai sejahtera) secara nyata antara Allah dan Manusia, antara sorga dan bumi; sehingga manusia dipulihkan kembali dalam relasi yang baik dengan Allah serta dengan sesama manusia, dengan satu syarat: Bahwa manusia hendaknya mau membuka diri untuk menerima pemulihan relasi tersebut.
Jemaat Tuhan Ytk.
Karya pemulihan Allah itu kini secara nyata tampak padan pembaharuan manusia oleh Tuhan Yesus Kristus secara dinamis. Maka dalam kebaktian Malam Natal, kesadaan untuk membuka diri dipulihkan, diproses dalam pembaharuan Kristus menjadi semakin penting. Itulah sebabnya, setelah kita menyoroti di bawah terang kesaksian Lukas 2: 1 – 14, marilah kita juga memperhatikan kesaksian dalam Mazmur 96: 2 “Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari”.
Jadi, saudara, dalam refleksi malam natal kali ini kita tahu sekarang bahwa karya pemulihaan Allah yang telah nyata itu tidak hanya dimengerti dan dipahami sebagai “pengalaman pribadi semata” melainkan juga bisa sungguh- sungguh mempengaruhi seluruh hidup dan kehidupan kita dari hari ke hari, sehingga menjadi sumber kesaksian kita pada sesama. AMIN
MITRA KASIH
MITRA KASIH
”menjadi sahabat bagi sesama, berlandaskan kasih agape”
Berawal dari bencana
Pada masa advent 2000, perbukitan Menoreh dilanda bencana alam tanah longsor, ratusan rumah roboh dan rusak, juga jiwa manusia menjadi korban keganasan alam. Tercatat lebih dari 79 orang meninggal dunia. Daerah yang paling parah adalah wilayah Kemanukan, Pacekelan, dan Hulosobo. Akibatnya, daerah-daerah minus yang masyarakatnya terjangkit endemic malaria itu menjadi semakin sengsara hidupnya. Korban yang perlu ditolong kebanyakan adalah wanita dan anak-anak.
Melihat kenyataan ini, Kelompok Kerja Diakonia GKJ Purworejo tak bisa tinggal diam. Minggu dinihari bencana datang, maka Senin pagi sudah berada di lapangan untuk memberikan bantuan sesuai kemampuan: menyusuri dan mencari korban, memberikan bahan makanan, dan membantu di bidang kesehatan. Namun kemampuan diri sangat terbatas. Maka kami memutuskan untuk melayani secara lebih luas lagi. Caranya: (1).meningkatkan Kelompok Kerja, menjadi berbentuk semacam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yaitu: Yayasan Diakonia Masyarakat (YDM) ”Mitra Kasih” GKJ Purworejo. (2).mendorong warga gereja untuk lebih aktif ambil bagian dalam pelayanan masyarakat umum melalui YDM ”Mitra Kasih”. Keterlibatan warga gereja itu meliputi: kesediaan menjadi relawan, dan dukungan materi ataupun uang. (3).mencari rekan pelayanan yang bisa diajak ambil bagian dalam pelayanan YDM Mitra Kasih.
Pembentukan pokja Diakonia menjadi YDM Mitra Kasih berjalan dengan lancar. Demikian juga antuasias warga untuk ambil bagian dalam pelayanan sebagai relawan juga sangat menggembirakan, tercatat pada waktu itu ada 14 relawan tetap, dan lebih dari 25 orang relawan tidak tetap untuk mendukung pelayanan. Namun, untuk mencari rekan pelayanan (lembaga donor) ternyata sangat sulit. Alasannya klise, karena YDM Mitra Kasih belum memiliki pengalaman sebagai LSM. Sungguh pun demikian, tekad dan semangat sudah terlanjur menyala-nyala, maka pelayanan tetap jalan meski kemampuan sangat terbatas. Untuk peningkatan pelayanan, maka dibuka Pos Persekutuan Doa ”Jum’at Pagi”, Sarasehan ”Selasa Kliwonan”, Penjemaatan persembahan Perpuluhan, dan peningkatan pelakksanaan disiplin rohani Kristen, yakni: Doa – Puasa bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.
Berkenalan dengan CWS Indonesia
Di tengah tuntutan karya pelayanan yang semakin berat, sementara kemampuan diri amat terbatas, ternyata TUHAN berkenan mengirimkan pertolongan pada saat yang tepat. Pimpinan YDM Mitra Kasih ,Pdt. Lukas Eko Sukoco, M.Th. berkenalan dengan relawan CWS (Church World Service) cabang Indonesia, yang berkedudukan pusatnya di New York Amerika Serikat. Selanjutnya, CWS tertarik untuk bekerjasama dalam pelayanan bagi masyarakat umum. Dari kerjasama ini lahirlah berbagai program pelayanan sbb:
Mobile Clinic (Klinik Keliling), yaitu pelayanan kesehatan (klinic) ke desa-desa terpencil, untuk umum, khususnya untuk Anak-anak Balita, Perempuan dan Ibu hamil; karena kelompok ini yang rentan terhadap penyakit di wilayah Kec. Kaligesing, dan Purworejo pinggiran, Kabupaten Purworejo. Selama hampir 2 bulan telah melayani 959 pasien.
Pelayanan Kesehatan di Desa-desa terpencil
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk Balita kurang Gizi di wilayah kecamatan Purworejo, Kaligesing dan Bagelen. Selama 6 bulan telah terlayani 353 Balita dan ibu menyusui, yaitu: 2X seminggu. Ditambah dengan berbagai penyuluhan pola hidup sehat bagi orang desa.
Belajar Bersama Praktek Membuat PUPUK ORGANIK
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Periode II, untuk Balita kurang Gizi di wilayah kecamatan Purworejo, Kaligesing dan Bagelen. Selama 6 bulan telah terlayani 391 Balita dan ibu menyusui, yaitu: 2X seminggu. Juga ditambah dengan berbagai penyuluhan pola hidup sehat bagi orang desa.
Selanjutnya, kerjasama dengan CWS terus berkembang sejalan dengan kebutuhan pelayanan di pedesaan, maka pada program berikutnya ada program pelayanan yang ditingkatkan menjadi program::
4. Peningkatan Pendapatan Keluarga (PPK) dengan usaha di bidang Pertanian
(empon-empon: Jahe merah, Kunir Putih, Temulawak, Lidah Buaya), juga di bidang Peternakan (ternak kambing Etawa), serta di bidang Industri Rumah Tangga (pembuatan Besek, Emping Mlinjo dan Gula Jawa, serta pembuatan pupuk organik). Kami menjangkau 189 KK, untuk masyarakat kurang mampu di Kec. Kaligesing dan Bagelen, Purworejo.
Hingga kini program pelayanan dengan CWS telah berlangsung sejak 2001, semua dilakukan sebagai wujud kesaksian pelayanan kepada masyarakat umum guna menyatakan kasih agape, yaitu kasih yang tulus penuh perngorbanan seperti Yesus.
Memperluas Pelayanan bersama Yayasan Eerlijk Delen, Belanda
Pelayanan kepada masyarakat umum terus terjadi, memang adakalanya muncul kelompok-kelompok radikal ”anti Kristen”. Mereka menganggap YDM ”Mitra Kasih” adalah kelompok orang-orang kafir yang dicurigai akan melakukan program kristenisasi. Kami tidak memberikan reaksi berlebihan, namun hati kami sedih. Sungguhpun demikian semua ini malah menambah semangat pelayan kami untuk terus jalan. Kami mengembangkan pelayanan bagi anak-anak sekolah dari keluarga miskin.
Kerinduan Mitra Kasih, bagaimana membantu anak-anak ini agar mampu sekolah. Ada yang sudah kami bantu sejak play Group dan TK. Ada yang menerima beasiswa di jenjang SD; bahkan tahun ini (2006) ada sekitar 23 siswa yang menikmati program Sekolah Gratis. Selebihnya, karena kemampuan terbatas ada beberapa anak SMK yang kami beri beasiswa. Lalu uangnya dari mana? Dari TUHAN (YHWH), di dalam Yesus Kristus. Dan, sedikit demi sedikit program peningkatan pendapatan juga membuahkan hasil, lalu ditambah dengan persembahan khusus dari jemaat juga sering muncul, serta dukungan dana dari sahabat-sahabat Mitra Kasih di Belanda, melalui Yayasan ”Eerlijk Delen”.
Selain itu YDM Mitra kasih juga membuka Sanggar Kegiatan Belajar, khususnya untuk mendampingi siswa-siswi SD agar memiliki ketrampilan: (1).berbahasa Inggris – dengan program Kursus Bahasa Inggris (2).sempoa – dengan program kursus Sempoa, (3).komputer – dengan program kursus computer.
Di bidang kemasyarakatan lainnya, YDM Mitra Kasih juga bergerak terutama di tengah suasana Bencana Alam (Gunung Merapi di DIY dan sekitarnya, Gempa Bumi Tektonis di DIY, Gunung Kidul/Womosari dan Klaten, serta Tsunami di Kebumen dan Cilacap).
Pelayanan Beasiswa bagi anak-anak dari Keluarga miskin, dari Play Group, TK, SD, SMP, hingga SMK
Tetap Di Bawah Koordinasi Gereja
Kini, LSM atau Yayasan Diakonia Mitra Kasih telah hampir berumur 6 tahun, ibaratnya ia masih Balita, namun karya pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada Mitra Kasih sungguh luar biasa. Bukankah semua karena kasih setia Tuhan semata. Berdasarkan pada pengalaman inilah maka sekalipun sudah berbadan hokum sendiri, YDM Mitra Kasih secara sub ordinatif masih berada di bawah Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purworejo. Kalau dulu ia berperan sebagai Pokja Diakonia, maka sekarang tumbuh berkembang menjadi Lembaga Pelayanan Diakonia Maysrakat. Kini, setiap Minggu jam 09.00 – 11.00 wib., di sebelah gereja dibuka KLINIK diakonia “Mitra Kasih” untuk masyarakat umum.
Berbeda dengan Gereja pada umumnya, GKJ Purworejo, yang akan berulang tahun ke 109 (4 Februari 1900 – 2009) yad., sangat serius mengembangkan bidang kesaksian dan pelayanan bagi masyarakat di sekitarnya. Itulah sebabnya, di bawah koordinasi gereja, maka ada berbagai model pelayanan masyarakat, seperti:
LSM ”Mitra Kasih” dan LSM ”YAKUBB”
YPK ”Widhodho”
Rumah Sakit Kr. ”Panti Waluyo”
Pusat Pelayanan Penyembuhan Holistic (Healing Holistic Center).
Paguyuban Seni Karawitan dan Campur Sari “Widodo Laras”
Paduan Suara Anak “Sangkakala”
Paduan Suara “Anugerah”
Grup Kolintang “Nafiri”
Grup Keroncong Asli “Gita Sukma”
Serta Estoe Band, & Narwastu Band.
Radio Komunitas MITRA FM
Dan KLINIK HOLISTIK MITRA HUSADA.
Menebar Kasih Agape
Pekerjaan pelayanan baru dimulai, sementara ladang pelayanan begitu luas terbentang, namun semangat untuk menebar Kasih AGAPE menjadi kekuatan batin yang penting. Pengharapan, Keyakinan dan Ketekunan yang dilandasi dengan spiritualitas pelayanan Kristus menjadi dasar pelayanan YDM Mitra Kasih. Kini, meski dengan tertatih-tatih kaena beban pelayanan yang sangat berat, tetap menjaga tekad dan semangat pelayanan bagi Tuhan.
Dukung Doa, Semoga semangat untuk menebar kasih AGAPE tak pernah pupus meski rintangan terus menghadang.
”menjadi sahabat bagi sesama, berlandaskan kasih agape”
Berawal dari bencana

Pada masa advent 2000, perbukitan Menoreh dilanda bencana alam tanah longsor, ratusan rumah roboh dan rusak, juga jiwa manusia menjadi korban keganasan alam. Tercatat lebih dari 79 orang meninggal dunia. Daerah yang paling parah adalah wilayah Kemanukan, Pacekelan, dan Hulosobo. Akibatnya, daerah-daerah minus yang masyarakatnya terjangkit endemic malaria itu menjadi semakin sengsara hidupnya. Korban yang perlu ditolong kebanyakan adalah wanita dan anak-anak.
Melihat kenyataan ini, Kelompok Kerja Diakonia GKJ Purworejo tak bisa tinggal diam. Minggu dinihari bencana datang, maka Senin pagi sudah berada di lapangan untuk memberikan bantuan sesuai kemampuan: menyusuri dan mencari korban, memberikan bahan makanan, dan membantu di bidang kesehatan. Namun kemampuan diri sangat terbatas. Maka kami memutuskan untuk melayani secara lebih luas lagi. Caranya: (1).meningkatkan Kelompok Kerja, menjadi berbentuk semacam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yaitu: Yayasan Diakonia Masyarakat (YDM) ”Mitra Kasih” GKJ Purworejo. (2).mendorong warga gereja untuk lebih aktif ambil bagian dalam pelayanan masyarakat umum melalui YDM ”Mitra Kasih”. Keterlibatan warga gereja itu meliputi: kesediaan menjadi relawan, dan dukungan materi ataupun uang. (3).mencari rekan pelayanan yang bisa diajak ambil bagian dalam pelayanan YDM Mitra Kasih.
Pembentukan pokja Diakonia menjadi YDM Mitra Kasih berjalan dengan lancar. Demikian juga antuasias warga untuk ambil bagian dalam pelayanan sebagai relawan juga sangat menggembirakan, tercatat pada waktu itu ada 14 relawan tetap, dan lebih dari 25 orang relawan tidak tetap untuk mendukung pelayanan. Namun, untuk mencari rekan pelayanan (lembaga donor) ternyata sangat sulit. Alasannya klise, karena YDM Mitra Kasih belum memiliki pengalaman sebagai LSM. Sungguh pun demikian, tekad dan semangat sudah terlanjur menyala-nyala, maka pelayanan tetap jalan meski kemampuan sangat terbatas. Untuk peningkatan pelayanan, maka dibuka Pos Persekutuan Doa ”Jum’at Pagi”, Sarasehan ”Selasa Kliwonan”, Penjemaatan persembahan Perpuluhan, dan peningkatan pelakksanaan disiplin rohani Kristen, yakni: Doa – Puasa bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.
Berkenalan dengan CWS Indonesia
Di tengah tuntutan karya pelayanan yang semakin berat, sementara kemampuan diri amat terbatas, ternyata TUHAN berkenan mengirimkan pertolongan pada saat yang tepat. Pimpinan YDM Mitra Kasih ,Pdt. Lukas Eko Sukoco, M.Th. berkenalan dengan relawan CWS (Church World Service) cabang Indonesia, yang berkedudukan pusatnya di New York Amerika Serikat. Selanjutnya, CWS tertarik untuk bekerjasama dalam pelayanan bagi masyarakat umum. Dari kerjasama ini lahirlah berbagai program pelayanan sbb:
Mobile Clinic (Klinik Keliling), yaitu pelayanan kesehatan (klinic) ke desa-desa terpencil, untuk umum, khususnya untuk Anak-anak Balita, Perempuan dan Ibu hamil; karena kelompok ini yang rentan terhadap penyakit di wilayah Kec. Kaligesing, dan Purworejo pinggiran, Kabupaten Purworejo. Selama hampir 2 bulan telah melayani 959 pasien.
Pelayanan Kesehatan di Desa-desa terpencil
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk Balita kurang Gizi di wilayah kecamatan Purworejo, Kaligesing dan Bagelen. Selama 6 bulan telah terlayani 353 Balita dan ibu menyusui, yaitu: 2X seminggu. Ditambah dengan berbagai penyuluhan pola hidup sehat bagi orang desa.
Belajar Bersama Praktek Membuat PUPUK ORGANIK
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Periode II, untuk Balita kurang Gizi di wilayah kecamatan Purworejo, Kaligesing dan Bagelen. Selama 6 bulan telah terlayani 391 Balita dan ibu menyusui, yaitu: 2X seminggu. Juga ditambah dengan berbagai penyuluhan pola hidup sehat bagi orang desa.
Selanjutnya, kerjasama dengan CWS terus berkembang sejalan dengan kebutuhan pelayanan di pedesaan, maka pada program berikutnya ada program pelayanan yang ditingkatkan menjadi program::
4. Peningkatan Pendapatan Keluarga (PPK) dengan usaha di bidang Pertanian
(empon-empon: Jahe merah, Kunir Putih, Temulawak, Lidah Buaya), juga di bidang Peternakan (ternak kambing Etawa), serta di bidang Industri Rumah Tangga (pembuatan Besek, Emping Mlinjo dan Gula Jawa, serta pembuatan pupuk organik). Kami menjangkau 189 KK, untuk masyarakat kurang mampu di Kec. Kaligesing dan Bagelen, Purworejo.
Hingga kini program pelayanan dengan CWS telah berlangsung sejak 2001, semua dilakukan sebagai wujud kesaksian pelayanan kepada masyarakat umum guna menyatakan kasih agape, yaitu kasih yang tulus penuh perngorbanan seperti Yesus.
Memperluas Pelayanan bersama Yayasan Eerlijk Delen, Belanda
Pelayanan kepada masyarakat umum terus terjadi, memang adakalanya muncul kelompok-kelompok radikal ”anti Kristen”. Mereka menganggap YDM ”Mitra Kasih” adalah kelompok orang-orang kafir yang dicurigai akan melakukan program kristenisasi. Kami tidak memberikan reaksi berlebihan, namun hati kami sedih. Sungguhpun demikian semua ini malah menambah semangat pelayan kami untuk terus jalan. Kami mengembangkan pelayanan bagi anak-anak sekolah dari keluarga miskin.
Kerinduan Mitra Kasih, bagaimana membantu anak-anak ini agar mampu sekolah. Ada yang sudah kami bantu sejak play Group dan TK. Ada yang menerima beasiswa di jenjang SD; bahkan tahun ini (2006) ada sekitar 23 siswa yang menikmati program Sekolah Gratis. Selebihnya, karena kemampuan terbatas ada beberapa anak SMK yang kami beri beasiswa. Lalu uangnya dari mana? Dari TUHAN (YHWH), di dalam Yesus Kristus. Dan, sedikit demi sedikit program peningkatan pendapatan juga membuahkan hasil, lalu ditambah dengan persembahan khusus dari jemaat juga sering muncul, serta dukungan dana dari sahabat-sahabat Mitra Kasih di Belanda, melalui Yayasan ”Eerlijk Delen”.
Selain itu YDM Mitra kasih juga membuka Sanggar Kegiatan Belajar, khususnya untuk mendampingi siswa-siswi SD agar memiliki ketrampilan: (1).berbahasa Inggris – dengan program Kursus Bahasa Inggris (2).sempoa – dengan program kursus Sempoa, (3).komputer – dengan program kursus computer.
Di bidang kemasyarakatan lainnya, YDM Mitra Kasih juga bergerak terutama di tengah suasana Bencana Alam (Gunung Merapi di DIY dan sekitarnya, Gempa Bumi Tektonis di DIY, Gunung Kidul/Womosari dan Klaten, serta Tsunami di Kebumen dan Cilacap).
Pelayanan Beasiswa bagi anak-anak dari Keluarga miskin, dari Play Group, TK, SD, SMP, hingga SMK
Tetap Di Bawah Koordinasi Gereja
Kini, LSM atau Yayasan Diakonia Mitra Kasih telah hampir berumur 6 tahun, ibaratnya ia masih Balita, namun karya pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada Mitra Kasih sungguh luar biasa. Bukankah semua karena kasih setia Tuhan semata. Berdasarkan pada pengalaman inilah maka sekalipun sudah berbadan hokum sendiri, YDM Mitra Kasih secara sub ordinatif masih berada di bawah Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purworejo. Kalau dulu ia berperan sebagai Pokja Diakonia, maka sekarang tumbuh berkembang menjadi Lembaga Pelayanan Diakonia Maysrakat. Kini, setiap Minggu jam 09.00 – 11.00 wib., di sebelah gereja dibuka KLINIK diakonia “Mitra Kasih” untuk masyarakat umum.
Berbeda dengan Gereja pada umumnya, GKJ Purworejo, yang akan berulang tahun ke 109 (4 Februari 1900 – 2009) yad., sangat serius mengembangkan bidang kesaksian dan pelayanan bagi masyarakat di sekitarnya. Itulah sebabnya, di bawah koordinasi gereja, maka ada berbagai model pelayanan masyarakat, seperti:
LSM ”Mitra Kasih” dan LSM ”YAKUBB”
YPK ”Widhodho”
Rumah Sakit Kr. ”Panti Waluyo”
Pusat Pelayanan Penyembuhan Holistic (Healing Holistic Center).
Paguyuban Seni Karawitan dan Campur Sari “Widodo Laras”
Paduan Suara Anak “Sangkakala”
Paduan Suara “Anugerah”
Grup Kolintang “Nafiri”
Grup Keroncong Asli “Gita Sukma”
Serta Estoe Band, & Narwastu Band.
Radio Komunitas MITRA FM
Dan KLINIK HOLISTIK MITRA HUSADA.
Menebar Kasih Agape
Pekerjaan pelayanan baru dimulai, sementara ladang pelayanan begitu luas terbentang, namun semangat untuk menebar Kasih AGAPE menjadi kekuatan batin yang penting. Pengharapan, Keyakinan dan Ketekunan yang dilandasi dengan spiritualitas pelayanan Kristus menjadi dasar pelayanan YDM Mitra Kasih. Kini, meski dengan tertatih-tatih kaena beban pelayanan yang sangat berat, tetap menjaga tekad dan semangat pelayanan bagi Tuhan.
Dukung Doa, Semoga semangat untuk menebar kasih AGAPE tak pernah pupus meski rintangan terus menghadang.
NATAL KREATIF - KONTEKSTUAL
Merayakan Natal Itu Berbahaya ?Judul ini : “Merayakan Natal Itu Berbahaya” pernah membuat geger umat Kristiani di akhir tahun 1981. Ulah Siapa ini?. Siapa lagi kalau bukan “ulah” Pdt. Dr. Andar Ismail (seorang Pendeta GKI Samanhudi Jakarta yang bekerja sebagai dosen di STT Jakarta). Pak Andar , begitu panggilan akrabnya, lerwat buku “SELAMAT NATAL”[1] membuat uraian kritis dan sangat menarik tentang Natal yang bisa menjadi berbahaya, jika tidak disertai dengan penghayatan dan pemahaman yang benar. Berikut ini adalah bahaya-bahaya sekitar Natal yang dimuat dalam buku tsb. yaitu:
Komersialisasi Natal
Natal secara sadar atau tidak, lalu menjadi identik dengan rupa-rupa bisnis dan sejumlah komuditas / barang dagangan, seperti: Sinterklas, Pohon Terang, Aneka Hiasan Natal, Lampu Natal, Kartu Natal, Parcel Natal, Konser Natal, Tour Natal, dan aneka acara Pesta Natal. Seandainya Tuhan Yesus hadir dalam acara perayaan Natal kita sekarang, maka Ia pasti terheran-heran sambil berpikir, “Apa hubungannya barang-barang ini dengan Kelahiran-Ku?”.
Gemerlapan dan Kemewahan Natal
Natal biasanya membutuhkan aneka persiapan yang berlebihan, dari sekedar rapat-rapat, hingga persiapan pentas drama, koor, maupun acara lainnya; lengkap dengan pesta, kemewahan dan gemerlapan. Akibatnya kita cenderung kehilangan makna keheningan dan kesederhanaan Natal.
Emosi Merohanikan Natal
Perayaan Natal yang cenderung dibesar-besarkan seperti sekarang ini juga membuat godaan untuk jatuh pada emosi merohanikan natal dengan berkata bahwa kita perlu “membuka hati menjadi palungan”, supaya “Yesus lahir di hati kita”. Kata-kata itu memang terdengar bagus, tetapi apa maknanya?. Bukankah sebagai umat Kristen, kita tidak diminta menjadi “palungan” tetapi diminta untuk datang kepadaNya dengan pembaruan dan pertobatan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari?
Kemunafikan Natal
Sering terjadi Natal menjadi kedok kebaikan. Orang tiba-tiba menjadi rajin ke gereja, ramah, baik hati dan pemurah. Namun, begitu perayaan Natal berlalu maka kita kembali memakai pola hidup egois, beringas dan jauh dari gaya hidup Kristen yang sesungguhnya dikehendaki Kristus.
Eksklusivisme Natal
Natal pada hakikatnya adalah tindakan solidaritas illahi kepada umat manusia dalam karya Yesus. Namun, yang sering terjadi , acara natal menjadi acara “Dari Kita Untuk Kita”, untuk mencari kepuasan rohani kita sendiri. Bahkan tak jarang terjadi acara natal dikemas dalam sebuah acara yang sangat ekklusif, sehingga untuk masuk ke ruangan itu pun perlu membawa undangan khusus. Sekali lagi, bukankah ini bertentangan dengan hakikat natal ?
Dengan menguraikan bahaya merayakan natal tsb., kita diajak bukan untuk membuang perayaan natal; melainkan justru kita diajak untuk merayakan Natal secara hati-hati dan bertanggung jawab. Itulah sebabnya dalam tulisan ini kita juga diajak untuk bagaimana merayakan Natal secara Kreatif.
Kembali ke “Inti Natal”
Peringatan Hari Ulang Tahun (kelahiran) sebenarnya tidak biasa dilakukan dalam kehidupan orang percaya. Alkitab mencatat ada dua kesaksian tentang perayaan Ulang Kelahiran, yaitu: (1).Ulang Tahun Firaun , pada jaman Yusuf (Kej. 40:20) dan (2).Ulang Tahun Herodes Antipas (Mat.14:6; Mark. 6:21).
Dalam kurun waktu yang lama, perayaan Ulang tahun memang menjadi kebiasaan orang-orang kafir pada jaman dulu. Umat Kristen, pada mulanya juga tidak merayakan “Kelahiran Yesus” melainkan “Kebangkitan Yesus”. Perayaan utama gereja adalah PASKAH (Kebangkitan Kristus) untuk menjadi kesaksian di seluruh dunia bahwa Yesus adalah Juru Selamat manusia. Maka jangan heran bahwa hanya Matius dan Lukas yang secara khusus menceritakan kisah Kelahiran Yesus.
Menurut catatan sejarah, perayaan Natal justru baru dilakukan oleh Gereja-gereja Kristen di Roma pada akhir abad IV, ditentukan tanggalnya adalah 25 Desember. Hal itu terjadi, karena sejak Kristen menjadi agama Negara mulai pada jaman Kaisar Konstantinus Agung, maka hari raya “Pemujaan Untuk Dewa Matahari” tidak boleh dilakukan, dan sebagai gantinya, diperkenalkan adanya Perayaan Natal pada tanggal 25 Desember. Perayaan itu makin lama makin berkembang ke seluruh dunia hingga saat ini, sebagai hari untuk secara khusus menghayati kelahiran Sang Juru Selamat umat manusia.
Berikut ini adalah hal-hal penting yang perlu kita cermati, sebagai makna penting dari perayaan Natal, yaitu:
a. Natal menjadi bermakna karena dipahami dalam perspektif Paskah
Natal atau perayaan kelahiran adalah hal yang biasa terjadi. Bukankah semua manusia di dunia ini melalui proses kelahiran? Entah ia orang kaya, atau miskin. Entah ia orang biasa, Raja ataupun seorang nabi. Tetapi, dalam Natal Kristus menjadi luar biasa karena disoroti dalam perspektif Paskah; yaitu, Kelahiran Sang Penyelamat dunia. Itulah sebabnya, orang Kristen diajak untuk tak hanya merayakan Natal, tetapi secara khusus perlu merayaan Paskah sebagai puncak karya penyelamatan Kristus.
b. Natal berarti Solidaritas Allah
Umat manusia penuh dengan cacat cela dan dosa, tetapi TUHAN (YHWH) dalam diri Yesus tetap mengasihi sehingga tindakan penyelamatan dilakukan dengan cara yang khas. Ia menjadi manusia biasa, dan lahir di tempat yang sangat sederhana dan dengan cara yang biasa pula. Tak hanya itu, berita natal pun mula-mula disampaikan kepada kaum gembala sebagai wujud pengutamakan kaum kecil yang sering terpinggirlkan. Itulah tindakan solidaritas Allah terhadap manusia menjadi ciri utama Natal; hal ini hendaknya juga menjadi teladan kita dalam merayakan natal.
c. Natal berarti Cinta Kasih dinyatakan
Jika kita cermati, dalam peristiwa Natal, maka “cinta kasih” sangat dinampakkan. Ada cinta kasih TUHAN secara universal kepada segenap umat manusia. Ada cinta kasih Yusuf-Maria, ada cinta kasih Yusuf-Maria kepada Allah, juga cinta kasih kaum gembala yang sederhana. Itulah sebabnya, cinta kasih hendaknya juga menjadi ciri utama yang mesti dinampakkan dalam penghayatan Natal kita kepada sesama manusia, terutama terhadap orang-orang yang menderita dan tersingkir.
d. Natal berarti kesederhanaan
Jika kita bersedia membayangkan suasana natal dalam kesaksian Alkitab, maka kita tak kan pernah menemukan natal yang penuh hura-hura, pesta-pora, dengan segala pemborosan bahkan komersialisasi natal. Yang akan kita temukan adalah: kesederhanaan yang dibarengi dengan ketulusan, kejujuran. Lihat saja bagaimana situasi dan kondisi Yusuf dan Maria waktu itu?. Bagaimana kondisi bayi Yesus yang ternyata Cuma ditempatkan dengan kain lampin di palungan?. Mestinya kesederhanaan natal menjadi bagian penting yang kita angkat, apalagi di saat bangsa kita penuh dengan rupa-rupa krisis dan aneka macam bencana.
e. Natal berarti pembaruan spiritualitas hidup
Relasi pribadi dengan Tuhan Allah akan membuahkan kwalitas hidup yang baik, yang tampak dalam perilaku hidup sehari-hari selaku orang beriman. Itulah Spiritualitas. Dalam peristiwa natal kita bisa mencermati kwalitas hidup Yusuf dan Maria sehingga keduanya dipilih Allah untuk menjadi sarana kelahiran-Nya. Tak hanya itu, kita bisa menemukan bagaimana proses kepekaan terhadap “kelahiran mesias” yang dilihat oleh orang-orang Majus dari Timur. Bukankah ini merupakan contoh terhadap tingkatan hidup manusia yang peka terhadap tanda-tanda jaman, peka terhadap Tuhan dan memiliki relasi pribadi dengan Dia?. Alangkah indahnya jika semangat natal juga disertai dengan pembaruan spiritualitas hidup yang benar.
Berbagai Kemungkinan “Natal Kreatif”
Sekarang kita sampai pada point penting tentang : Berbagai Kemungkinan “Natal Kreatif”. Yang dimaksud dengan “Natal Kreatif” bukan natal yang aneh-aneh, seperti: mengganti Pohon Cemara dengan Pohon Pisang atau Bambu. Bukan!. Natal Kreatif juga bukan sekedar mengganti lilin dengan oncor, lalu merubah palungan dan kandang domba menjadi gubug (=dangau – rumah kecil di tengah sawah)…. Ataupun menampilkan drama natal ala Jawa atau Indonesia sehingga Maria memakai kain kebaya , lalu Yusuf pakai beskap dan blangkon…. , menuntun Onta…. Wah , malah aneh. Bukan. Bukan itu yang dimasud Natal Kreatif.
Natal Kreatif yang dimaksud di sini adalah sebuah ajakan agar kita kembali terhadap dua hal berikut ini:
Menyadari “bahaya natal” sehingga kita tidak jatuh di dalamnya.
Menyadari “inti natal” sehingga kita bisa melakukan perayaan natal yang dilandasi oleh inti natal tsb.
Berikut ini sekedar contoh tentang merayakan natal kreatif, namun contoh ini tidak berlaku untuk semua gereja. Kita harus menemukan sendiri model natal yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan kita masing-masing, yang tetap dilandasi dengan kebenartan “inti natal”.
Contoh Natal Kreatif itu misalnya:
- Natal dengan Penanaman Pohon untuk ambil bagian mengatasi GLOBAL WARMING
- Natal dengan kebersihan lingkungan (pengelolaan sampah, pembersohan saluran air dll)
- Kunjungan Sosial dalam rangka natal bisa dilakukan ke komunitas-komunitas terpinggir, seperti: Penjara, Panti Asuhan, Panti Werdha, bahkan ke tempat penampungan anak-anak cacat, juga penampungan korban para bencana alam. Wujud dan acaranya perlu dibicarakan bersama mereka.
· Kunjungan Kasih ke desa atau gereja-gereja di daerah pinggiran, bahkan gereja-gereja yang di daerah terpencil lalu mengadakan natal bersama mereka. Wujud dan acaranya juga perlu dibicarakan bersama mereka.
· Kunjungan Natal ke warga gereja/masyarakat sekitar yang membutuhkan: yang sakit, yang sudah tua, dan yang mundur ; sehingga memiliki sentuhan kasih natal dan tergerak untuk merasakan kasih Kristus.
· Kunjungan Natal ke Rumah Sakit, terutama kepada pasien-pasien yang terlantar karena jauh dari keluarga, kondisi ekonomi pas-pasan, atau yanbg tengah mengalami “sakit terminal” (sakit yang kemungkinan besar tak bisa disembuhkan).
· Aksi Sosial bersama masyarakat di sekitar gereja, disesuaikan dengan kebutuhan mereka dan kemampuan kita, seperti: memberi Makan bagi Tukang Becak, Pengobatan Gratis, Kerja Bhakti bersama masyarakat, Sunatan/Khitan Masal dll.
· Kebaktian Natal sederhana di gereja ; baik pada saat menghayati Malam Natal (24 Desember) maupun Kebaktian Natal (25 Desember) dengan menghindari segala bentuk kemewahan yang berlebihan. Buatlah Liturgi, dekorasi dan acara yang sederhana namun bermakna.
· Refleksi Natal sederhana bisa dilakukan di kelompok, persekutuan doa, maupun keluarga-keluarga Kristen; tetapi tetap mengutamakan “inti natal” termasuk untuk membangun spiritualitas pribadi dengan TUHAN.
Demikian beberapa catatan tentang Kemungkinan “Natal Kreatif” yang kami sampaikan semoga bermanfaat untuk membuka wawasan kita dalam merayakan natal yang sesuai dengan “inti natal”. Tugas kita sekarang adalah merancang dan menemukan sendiri “Natal Kreatif” kita sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita masing-masing. Selamat mempersiapkannya. Tuhan memberkati
Pwr, 06 . (LES).
[1] Ismaei, Andar,Dr., Selamat Natal: 33 Renungan Tentang Natal (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981)
Langganan:
Postingan (Atom)
